Adab kepada Orang Tua

Adab kepada Orang Tua

  1. Menaati semua perintah orang tua, selama bukan perintah untuk bermaksiat.
  2. (QS. Al-Ankabut [29]: 8)

    وَوَصَّيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْنًا ۗوَاِنْ جَاهَدٰكَ لِتُشْرِكَ بِيْ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۗاِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَاُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ

  3. Bertutur kata dengan lemah lembut.
  4. (QS. Al-lsro’ [17]: 23)

    وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَآ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًاَ

  5. Merendahkan diri di hadapan orang tua.
  6. (QS. Al-lsro’ [17]: 24)

    وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيٰنِيْ صَغِيْرًاۗ

  7. Membantu pekerjaan orang tua di rumah.
  8. Mendahulukan kepentingan orang tua daripada orang lain.
  9. Senantiasa mendoakan dan berbuat baik kepada kedua orang tua walaupun sudah wafat.
Doa Terhindar Dari Utang

Doa Terhindar Dari Utang

Telah diceritakan dari Zuhair bin Harb, telah diceritakan dari Jarir, dari Suhail, ia berkata, “Abu Shalih telah memerintahkan kepada kami bila salah seorang di antara kami hendak tidur,

hendaklah berbaring di sisi kanan kemudian mengucapkan,

 

اَللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ، رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ، فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى، وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَاْلإِنْجِيْلِ وَالْفُرْقَانِ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ. اَللَّهُمَّ أَنْتَ اْلأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ اْلآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُوْنَكَ شَيْءٌ، اِقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ وَأَغْنِنَا مِنَ الْفَقْرِ

Allahumma robbas-samaawaatis sab’i wa robbal ‘arsyil ‘azhiim, robbanaa wa robba kulli syai-in, faaliqol habbi wan-nawaa wa munzilat-tawrooti wal injiil wal furqoon.

A’udzu bika min syarri kulli syai-in anta aakhidzum binaa-shiyatih. Allahumma antal awwalu falaysa qoblaka syai-un wa antal aakhiru falaysa ba’daka syai-un, wa antazh zhoohiru fa laysa fawqoka syai-un, wa antal baathinu falaysa duunaka syai-un, iqdhi ‘annad-dainaa wa aghninaa minal faqri.

✔️ Artinya:

“Ya Allah, Rabb yang menguasai langit yang tujuh, Rabb yang menguasai ‘Arsy yang agung, Rabb kami dan Rabb segala sesuatu. Rabb yang membelah butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah, Rabb yang menurunkan kitab Taurat, Injil dan Furqan (Al-Qur’an). Aku berlindung kepadaMu dari kejahatan segala sesuatu yang Engkau memegang ubun-ubunnya (semua makhluk atas kuasa Allah).

Ya Allah, Engkau-lah yang awal, sebelum-Mu tidak ada sesuatu. Engkaulah yang terakhir, setelahMu tidak ada sesuatu. Engkau-lah yang lahir, tidak ada sesuatu di atasMu. Engkau-lah yang Batin, tidak ada sesuatu yang luput dari-Mu.

Lunasilah utang kami dan berilah kami kekayaan (kecukupan) hingga terlepas dari kefakiran.” (HR. Muslim no. 2713)

Imam Nawawi rahimahullah menyatakan bahwa maksud utang dalam hadits tersebut adalah kewajiban pada Allah Ta’ala dan kewajiban terhadap hamba seluruhnya, intinya mencakup segala macam kewajiban.” (Syarh Shahih Muslim, 17: 33).

Al Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al Hajjaj, Yahya bin Syarf An Nawawi, terbitan Dar Ibnu Hazm, cetakan pertama, tahun 1433 H.

Belajar Mendidik Anak Dari Lukman Al-Hakim

Belajar Mendidik Anak Dari Lukman Al-Hakim

Anak bagi kedua orang tuanya adalah seperti perhiasan yang menghiasi kehidupan keduanya di dunia ini. Alloh Subhanahu wa ta’ala berfirman:

الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia…” (QS. Al-Kahf: 46). Bagi insan yang sadar dan bijak, dan meresapi salah satu firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala yang berbunyi:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah diri dan keluarga kalian dari api neraka…” (QS. At-Tahrim: 6). Maka ia akan senantiasa menjaga salah satu perhiasan yang ia miliki, yaitu anak. Penjagaan yang akan ia lakukan dan usahakan adalah dengan mencari dan mempelajari metode terbaik, yang dapat ia aplikasikan dalam mendidik dan membina mereka agar menjadi anak yang baik. Di dalam Al-Qur’an telah tersuratkan sebuah kisah dari salah seorang figur orang tua terbaik dalam mendidik dan membina anaknya. Ia adalah Luqman, seorang yang Alloh Subhanahu wa Ta’ala anugerahkan kepadanya al-hikmah ,yaitu ilmu dan pemahaman mendalam terhadap agama serta bijak dalam mendakwahkan pemahaman agamanya tersebut kepada orang lain. Ia telah memberikan metode-metode utama dalam mendidik anak; Sehingga kita pun dapat mengikuti metode-metode tersebut agar dapat diaplikasikan dalam mendidik dan membina anak. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ

“Dan sesungguhnya telah Kami berikan al-hikmah kepada Luqman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Alloh. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Alloh), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Alloh Maha Kaya lagi Maha Terpuji.”(QS. Luqman: 12).


Metode pertama dan paling utama adalah mengenalkan dan menanamkan pemahaman kepada sang buah hati bahwasannya peribadahan hanya ditujukan hanya untuk Alloh Subhanahu wa Ta’ala semata dan melarang mereka dari menyekutukanNya. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَابُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Wahai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Alloh, Sesungguhnya mempersekutukan (Alloh) adalah benar-benar kezaliman yang besar”. (QS. Luqman: 13).

Metode ini sejalan dengan langkah awal dan langkah paling utama dakwah para Nabi dan Rosul kepada umatnya. Bahkan muatan dakwah dan pembinaan yang dilakukan para Nabi dan Rosul kepada umatnya berintikan kepada pen-tauhidan kepada Alloh ‘Azza wa Jalla . Alloh Ta’ala berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

Dan Kami tidak mengutus seorang Rosul pun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Aku, maka sembahlah Aku”. (QS. Al-Anbiya: 25).

Metode kedua adalah menanamkan dan mengajarkan kepada mereka sikap merasa diawasi oleh Alloh Ta’ala (muroqobatulloh). Alloh Ta’ala berfirman:

يَابُنَيَّ إِنَّهَا إِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ

(Luqman berkata): “Wahai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui.”(QS. Luqman: 16).

Metode ketiga adalah mengenalkan dan mengajarkan kepada mereka dengan beragam ibadah yang disyariatkan oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala dan Nabi-Nya di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَابُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

“Wahai anakku, dirikanlah sholat dan suruhlah (manusia) untuk mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Alloh).” (QS. Luqman: 17).

Di ayat ini, Luqman mengajarkan dan mendidik anaknya tiga ibadah utama dari beragam ibadah di dalam agamanya, yaitu sholat, menyeru manusia untuk mengerjakan kebaikan dan mencegah mereka dari mengerjakan keburukan (dakwah), serta bersabar atas’ seruan dakwah yang ia lakukan kepada manusia.

Metode keempat, adalah membina mereka dengan adab-adab dan akhlak mulia; Dimana dengan keduanya akan berguna dalam hidup bersosial. Adab-adab dan akhlak mulia itu adalah:

Pertama, berbakti kepada kedua orang tua. Alloh Ta’ala berfirman:

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapaknya” (QS. Luqman: 14).

Kedua, rendah hati dan menjauhkan diri dari sikap sombong. Alloh Ta’ala berfirman:

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman: 18).

Ketiga, rendah hati dan tidak tergesa-gesa serta tidak terlalu lambat ketika berjalan di hadapan umum. Alloh Ta’ala berfirman:

وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ

“Dan sederhanalah kamu dalam berjalan…”(QS. Luqman: 18-19).

Keempat, merendahkan suara ketika berbicara dihadapan orang lain. Alloh Ta’ala berfirman:

وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ

“Dan rendahkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.”Dengan membina dan mendidik anak-anak dengan pengenalan dan pengamalan akan ketauhidan Alloh Subhanahu wa Ta’ala dalam semua sisi peribadahan, dan senantiasa menjaga mereka untuk tetap berada dalam atmosfer peribadahan serta menjauhkan mereka dari kesyirikan, maka mereka akan terhindar dari semua bentuk guncangan kejiwaan akibat ujian-ujian dan cobaan-cobaan kehidupan dunia. Sehingga mereka akan siap untuk hidup bermasyarakat, dengan pribadi yang terhiasi dengan adab-adab dan akhlak mulia dan siap menjaga masyarakat untuk tetap selaras dengan aturan-aturan agama.

Wallohu a’lam.

Menghafal Al Qur’an Tapi Malas Murojaah? Begini Solusinya

Menghafal Al Qur’an Tapi Malas Murojaah? Begini Solusinya

Pernakah Anda yang sedang berjuang menghafal Al Qur’an tapi malas mengulangnya? Kenapa bisa begitu? Yuk simak penjelasan berikut

Seseorang yang memiliki hafalan Al Qur’an haruslah banyak bersyukur karena itu adalah nikmat tiada tara dari Allah Swt, itu karunia yang sangat besar dan diberikan kepada orang-orang terpilih, harus senantiasa dijaga hingga maut menjemput.

Memang menjaga hafalan tidaklah semudah yang dibayangkan, rasa malas yang sering kali menghampiri menjadi kendala tersendiri untuk mengulang kembali kalam-kalam ilahi agar tertancap di dalam hati.

Jika rasa malas menghampiri, segera cari solusi agar semua bisa teratasi dan semangat murojaah datang kembali.

Lalai dalam murojaah adalah sebuah kerugian besar, karena lalai terhadap nikmat yang sudah Allah titipkan sedemikian rupa. Murjojaah atau mengulang hafalan sangat penting bagi para penghafal Al Qur’an. Sebagaimana yang disampaikan Rasulullah dalam sebuah hadist

“Bersungguh-sungguhlah untuk berjanji menjaga Al-Qur`an ini, Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada dalam genggaman-Nya, sungguh Al-Quran lebih cepat terlepas daripada unta dari tali ikatannya.” (HR: Muslim)

Ja’far As-Shidiq juga berkata, “Hati adalah tanah, ilmu itu tanamannya dan hafalan adalah airnya, jika tanah tidak disirami air maka tanamannya akan kering.”

Dari penjelasan di atas menunjukkan bahwa mengulang hafalan (murojaah) adalah sebuah keniscayaan bagi penghafal Al Qur’an, banyak di antara kaum muslimin yang semangat dalam menambah hafalan akan tetapi malas dalam mengulang, hal itu dikarenakan:

1. Terlalu Berpacu pada Target

Terburu-buru dalam menghafal karena diburu oleh target ternyata menjadi masalah tesendiri, baik target pribadi maupun lembaga atau organisasi. Tidak sedikit, target itu dibuat karena malu dengan teman yang lebih cepat dalam menghafal sehingga setiap hari atau pertemuan harus kejar setoran.

Akibatnya adalah sering terjadi ketidakseimbangan antara kualitas dan kuantitas pada hafalannya, sebagian besar mereka banyak yang memilih untuk fokus dalam menambah hafalan saja sehingga murojaah sering terlupakan.

Boleh saja memburu target asalkan seimbang antara porsi menambah dan mengulang hafalan. Jadi setoran terus, murojaah juga jalan terus. Sehingga ketika sudah khatam 30 juz tidak perlu mulai dari awal lagi untuk mengulang hafalan. Khatam 30 juz diiringi dengan hafalan yang sudah lancar.

2. Hafalan Tidak Lancar

Penghafal Al Qur`an itu dibagi menjadi 3 tingkatan yang yaitu benar-benar hafal (mutqin), sekadar hafal, dan hafal-hafalan, sekadar hafal dan hafal-hafalan itu adalah tingkatan yang harus diwaspadai karena itu menjadi penyebab seseorang malas dalam mengulang. Ibarat virus, hafalan yang tidak lancar itu bisa mempengaruhi hafalan kita yang lancar jika tidak segera diperbaiki.

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah dengan cara mencari tahu sebab mengapa hafalan tidak lancar, apakah karena metode yang kurang sesuai, apakah kurangnya dalam murojaah atau lainnya, setelah itu dicari solusinya.

3. Tidak Mempunyai Komunitas yang Mendukung

Mengulang hafalan itu seperti iman kita, ada kalanya naik ada kalanya turun, dan itu wajar. Menjadi tidak wajar ketika motivasi turun tidak segera bangkit apalagi putus asa sehingga tidak melanjutkan hafalannya. Maka disini perlunya komunitas untuk menjaga hafalan kita.

Sebab kegagalan dalam menghafal adalah tidak memilki teman dan guru, pepatah mengatakan :

“Barangsiapa yang tidak punya guru, maka gurunya adalah setan.”

 

Sumber: Tahfidzcilik.com

10 Tips Mudah Menghafal Al Quran Bagi Pemula

10 Tips Mudah Menghafal Al Quran Bagi Pemula

Untuk anda yang ingin belajar cara cepat menghafal al quran yang efektif dan bingung mulai dari mana rumus mudahnya maka silahkan simak dengan baik baik tips yang bisas diterapkan untuk remaja, anak dan orang dewasa berikut ini.

Tips ini atau cara menghafal al quran ini bisa diterapkan konsisten dalam 1 tahun bagi anda yang masih benar benar baru mulai menghafal.

Dan setelah satu tahun maka rasakan perbedaan dengan yang tidak menggunakan metode atau rumus dalam menghafal, tentu akan sangat jauh perbedaannya. Dan langsung saja berikut ini tips atau cara mudah menghafal Al Quran untuk pemula.

Metode Cara Menghafal Al Quran Dengan Mudah

1. Menghafal Surat Surat Pendek

Bagi pemula maka sangat disarankan untuk menghafal surat-surat pendek yang ada di juz amma. Kenapa harus surat pendek ?, alasannya adalah surat surat pendek Al Quran itu memiliki ayat yang pendek sehingga mudah untuk dihafalkan.

2. Menggunakan Metode Baca Lalu Hafal

Metode yang sering digunakan dalam menghafal Al Quran adalah dengan membaca ayat yang akan di hafal secara berulang ulang baru setelah itu dihafal.

Biasanya ayat yang akan dihafal itu dibaca sebanyak 20 sampai 25 kali barulah setelah itu dihafal. Metode lainnya yakni dengan membaca per-baris ayat al Quran.

Jadi jika dalam satu baris itu ada 2 ayat maka silahkan baca sebanyak 20-25 kali sebelum dihafal. Cara ini akan memudahkan kita nantinya ketika sudah memasuki proses menghafal,

3. Mulai Menghafal

Setelah ayat atau baris ayat dibaca sebanyak 20-25 kali barulah mulai menghafal, usahakan menghafal dengan menutup mushaf Al Quran.

Jika anda sudah mampu membaca hafalan per-baris dengan lancar dan dengan menutup mushaf maka sudah bisa dikatakan kategori lulus.

Setelah itu lanjutkan kedalam semua surat atau ayat, cara ini sangat ampuh untuk digunakan para pemula dalam menghafal Al Quran.

4. Mentargetkan Hafalan

Untuk menunjang keberhasilan dalam proses menghafal Al Quran tentu dibutuhkan yang namanya target hafalan, dan yang dimaksud dengan target hafalan adalah sebagai berikut.

Misal dalam satu hari anda memiliki taget hafalan 2 baris ayat, maka sebelum 2 baris itu tercapai maka jangan berhenti untuk menghafal.

Namun jika dalam eaktu singkat bisa menghafal 2 baris ayat Al Quran maka sudah cukupkan hafalan pada hari itu dan jangan ditambah. Tujuannya adalah untuk menjaga mood kita dalam menghafal Al Quran.

5. Setoran Hafalan

Setoran hafalan ini bisa dilakukan ketika anda sudah bisa menghafal 1 lembar bolak balik halaman Al Quran, dan untuk setoran hafalan bisa anda tunjukan kepada orang yang ahli dalam bidang baca Al Quran.

Seperti para ustadz, guru ngaji atau syaikh yang ada didaerah terdekat anda. Tujuan utama dari setoran hafalan adalah untuk memeriksa kelancaran serta ketepatan hafalan yang sudah kita miliki.

Maka dari itu penting sekali untuk menyetorkan hafalan kepada orang yang ahli dalam bidang membaca Al Quran.

6. Murojaah atau Mengulang Hafalan

Setelah mampu menghafal beberapa lembar Al Quran maka proses selanjutnya adalah mengulang-ulang hafalan yang didapat.

Tujuannya adalah agar hafalan yang sudah didapatkan tidak hilang ketika kita mendapat hafalan baru, dan ketika sudah mendapatkan hafalan baru maka bisa digabungkan dengan hafalan lama agar semakin kuat daya ingat kita terhadap hafalan yang sudah dimiliki.

7. Berdoa

Setelah mampu dan istiqomah dalam menjalankan tahapan tahapan diatas, maka selanjutnya adalah berdoa kepada Allah Azza Wa Jalla agar kita senantiasa dipermudah dalam proses menghafal dan dikokohkan hafalan Al Quran pada diri kita.

Karena yang mampu mempermudah dan mengkokohkan hafalan didalam diri kita hanya Allah Ta’ala, untuk itu dalam setiap kesempatan kita harus senantiasa berdoa kepada Allah Ta’ala.

8. Makan Makanan Yang Bergizi Dan Halal

Untuk menunjang kecerdasan seseorang maka sangat diperlukan makanan yang bergizi dan wajib halal, karena kita memiliki tujuan mulia yakni akan menghafal Al Quran.

Dan salah satu cara mempermudah hafalan adalah dengan memakan makanan yang halal dan baik.

9. Sabar Dan Istiqomah

Hal mendasar yang wajib dimiliki oleh semua orang ketika ingin menghafal Al Quran adalah rasa sabar dan sifat istiqomah.

Sabar disini maksudnya adalah sabar dalam proses menghafal yang tentu akan menguras waktu, fikiran dan tenaga. Namun kita harus yakin jika tujuan kita adalah tujuan yang baik dan akan mendapat pahala disisi Allah Ta’ala.

Dan istiqomah yang dimaksud disini adalah terus menerus tak kenal putus asa dalam proses menghafal, jangan terpengaruh oleh bisikan syaiton yang menyuruh kita untuk berhenti menghafal Al Quran.

Karena sejatinya ketika kita mampu menghafal Al Quran dengan baik dan benar maka diri kita sendirilah yang mendapatkan keuntungan dan bukan orang lain.

10. Ikhlas Dalam Menghafal

Niatkan dalam hati untuk ikhlas menghafal Al Quran hanya ingin mendapat ridho dan pahala dari Allah Ta’ala. Jauhkan sifat atau keinginan untuk dipuji oleh makhluk, karena akan sia-sia semua usaha kita jika kita menghafal Al Quran hanya ingin dipuji oleh makhluk.

Rasa ikhlas harus selalu dimunculkan dalam diri kita, mulai dari awal sampai dengan akhir. Dan untuk memelihara sikap ikhlas ini sobat harus rela mendapatkan ujian ujian ketika menghafal.

Kesimpulan !!

Menghafal Al Quran merupakan perkara yang sangat mudah, karena Allah Ta’ala sendiri yang mengatakan bahwasannya “Al Quran itu mudah untuk dipelajari”.

Namun yang menjadi berat adalah mengamalkan isi kandungan dari ayat-ayatnya. Jadi untuk sobat yang hendak menghafal Al Quran harus siap siap mengamalkan isi kandungan yang ada dalam Al Quran kedalam setiap lini kehidupan.

Karena sejatinya penghafal Al Quran adalah orang orang yang telah Allah Ta’ala pilih untuk dijadikan contoh di masyarakat, dan sudah sepatutnya para penghafal Al Quran menjadi panutan yang baik untuk lingkungan.

logo-removebg-preview

Sekolah Tahfidz Kejuruan

www.TahfidzKejuruan.org

0818-940-627

admin@tahfidzkejuruan.org

0818-940-627

Copyright © 2021 Tahfidz Kejuruan. All Rights Reserved